LAPORAN KIMIA LEMAK DAN PROTEIN 2012



BAB I
PENDAHULUAN
Analisa kuantitatif bertujuan untuk menentukan jumlah suatu zat atau komponen. Pada analisa kuantitatif zat yang akan ditentukan kadarnya direaksikan dengan zat yang lain yang diketahui konsentrasinya, kemudian dititrasi setelah sebelumnya menambahkan suatu indikator, hingga mencapai titik ekuivalen.
Karbohidrat adalah sumber energi utama yang diperlukan oleh manusia. Karbohidrat adalah polihidroksi aldehid dan polihidroksi keton yang mempunyai rumus umum Cn(H2O)n.
Protein adalah senyawa organik yang molekulnya sangat besar dan susunannya sangat kompleks serta merupakan polimer dari alfa asam-asam amino. Pada uji biuret reaksi positif jika terbentuk warna merah muda atau ungu.
Lemak adalah senyawa organik yang ada di dalam alam baik dalam tumbuhan, hewan, maupun manusia. Lemak merupakan ester antara gliserol dan asam lemak, dimana ketiga radikal hidroksal dari gliserol semuanya diesterkan.
Tujuan dari praktikum pengenalan analisa kuantitatif yaitu untuk mengenal metode analisa kuantitatif dan untuk menetapkan kadar asam cuka. Tujuan dari praktikum karbohidrat adalah mengetahui sifat umum dan sifat khusus karbohidrat. Tujuan dari praktikum protein adalah untuk mengetahui sifat umum dan sifat khusus protein. Tujuan dari praktikum lemak adalah untuk mengetahui sifat umum dan sifat khusus dari lemak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1         Analisa Kuantitatif
2.1.1        Pengertian Analisa Kuantitatif
Analisa kuantitatif adalah suatu analisa yang digunakan untuk mengetahui kadar suatu zat. Analisa kuantitatif berkaitan dengan penetapan beberapa banyak suatu zat tertentu yang terkandung dalam suatu sampel. Zat yang ditetapkan tersebut, yang sering kali dinyatakan sebagai konstituen atau analit, menyusun sebagian kecil atau sebagian besar sampel yang di analisis (Day dan Underwood, 2002).
Larutan yang kita ketahui konsentrasinya dengan teliti disebut larutan standar. Larutan ini biasanya diteteskan dari buret ke dalam erlenmeyer yang mengandung reaksinya selesai. Proses ini dinamakan titrasi. Titik dimana saat ini terjadi disebut titik akhir titrasi. Pada titrasi yang ideal, titik akhir yang terlihat akan terjadi berbarengan dengan titik akhir stoikiometri atau teoretis. Namun, dalam praktek biasanya akan terjadi perbedaan yang sangat sedikit, ini merupakan sesatan (error) titrasi. Indikator dan kondisi-kondisi eksperiment harus dipilih sedemikian, sehingga perbedaan antara titik akhir titrasi dengan titik ekuivalen adalah sekecil mungkin. (Campbell, et al., 2002).


2.1.2        Macam – Macam Analisa Kuantitatif
Secara garis besar metode yang digunakan dalam analisis kuantitatif dibagi menjadi dua macam yaitu kimia analisis kuantitatif instrumental, yaitu metode analisis bahan-bahan kimia menggunakan alat-alat instrumen, dan analisa klasik  konvensional (Haryadi, 1990). Metode dalam analisa kuantitatif dibedakan menjadi 2 bagian yaitu metode gravimeter dan volumetri. Metode gravimeter dalam ilmu kimia merupakan salah satu metode analisis kuantitatif suatu zat atau komponen yang telah diketahui dengan cara mengukur berat komponen dalam keadaan murni setelah melalui proses pemisahan. Cara dilakukan dengan unsur atau senyawa yang diselidiki dan bahan yang menyusunnya. Bagian terbesar yang dilakukan metode gravimetri adalah perubahan unsur berat tetapnya. Berat senyawa selanjutnya dapat dianalisa berdasarkan jenis senyawa.
Metode volumetri atau titimetri adalah analisa kuantitatif dari reaksi kimia. Pada analisis ini zat yang akan di tentukan kadarnya, di reaksikan dengan zat lain yang telah di ketahui konsentrasinya sampai tercapai titik ekuivalen sehingga kepekatan zat yang dicari dapat dihitung (Sukmariah dan Kamianti, 1992). Analisis volumetri didasarkan pada pengukuran volume sejumlah larutan pereaksi yang diperlukan untuk bereaksi dengan senyawa yang hendak di tentukan (Roth dan Blaschke, 1988).




2.2         Karbohidrat
2.2.1        Pengertian Karbohidrat
Karbohidrat adalah polihidroksi aldehida atau polihidroksi keton atau turunan dari keduanya. Karbohidrat tersusun atas unsur karbon, hidrogen, dan oksigen, dalam senyawa-senyawa ini, dua unsur terakhir mempunyai perbandingan 2:1 seperti perbandingan hidrogen dan oksigen pada air (Sumardjo, 2009).
Banyak karbohidrat memiliki rumus empiris CH2O; misalnya, rumus molekul glukosa ialah C6H12O6 (enam kali CH2O).  Namun ada juga senyawa organik yang bukan karbohidrat, seperti asam asetat (C2H4O2 ) atau asam laktat (C3H6O3 ), mempunyai rumus perbandingan seperti yang dimiliki karbohidrat (Sumardjo, 2009).
2.2.2        Macam – Macam Karbohidrat
Karbohidrat diklasifikasilkan menjadi empat, yaitu monosakarida, disakarida, oligosakarida dan polisakarida. Monosakarida adalah yang dapat dihidrolisis menjadi karbohidrat yang lebih sederhana. Monosakarida ini dapat diklasifikasikan sebagai triosa, tertosa, pentosa, heksosa, atau heptosa, bergantung pada jumlah atom karbon , dan sebagai aldosa atau ketosa bergantung pada agugus aldehida atau keton yang dimiliki senyawa tersebut (Murray et al., 2006). Monosakarida larut di dalam air dan rasanya manis, sehingga secara umum disebut juga gula (Campbell et al., 2002).
Disakarida adalah produk kondensasi dua unit monosakarida, contohnya maltosa dan sukrosa (Murray et al., 2006). Disakarida terdiri atas dua monosakarida yang dihubungkan oleh suatu ikatan glikosidik, ikatan kovalen yang terbentuk melalui reaksi dehidrasi (Campbell et al., 2002). Polisakarida yang juga dikenal sebagai poliosa merupakan karbohidrat majemuk yang mempunyai susunan kompleks dengan berat molekul yang besar (Sumardjo, 2009).
Senyawa yang termasuk oligosakarida mempunyai molekul yang terdiri atas beberapa molekul monosakarida. Dua molekul monosakarida yang berikatan satu dengan yang lain, membentuk satu molekul disakarida. Oligosakarida yang lain ialah trisakarida yaitu yang terdiri atas tiga molekul monosakarida dan tetrasakarida yang terbentuk dari empat molekul monosakarida. Oligosakarida yang paling banyak terdapat dalam alam ialah disakarida (Poedjiadi dan Supriyanti, 2007). Oligosakarida tersusun atas sedikit (oligos) satuan atau unit sakarida. Unit-unit penyusun sakarida dapat sama tetapi dapat juga berbeda dan umumnya tersusun atas 2-6 satuan monosakarida. Oligosakarida berupa zat padat berbentuk kristal yang dapat larut di dalam air. Oligosakarida yang terdapat di alam adalah disakarida, trisakarida dan tetrasakarida (Sumardjo, 2006).
2.3         Protein
2.3.1        Pengertian Protein
Protein merupakan komponen utama dalam semua sel hidup, baik tumbuhan maupun hewan. Pada sebagian besar jaringan tubuh, protein merupakan komponen terbesar adalah air. Kira-kira lebih dari 50% berat kering sel terdiri atas protein. Protein adalah senyawa organik kompleks yang terdiri dari atas unsur-unsur Karbon (50-55%), Hidrogen (±7%), Oksigen (±13%), dan Nitrogen (±16%). Banyak pula protein yang mengandung Belerang dan Fosfor dalam jumlah sedikit (1-2%). Ada beberapa protein lainnya mengandung unsur logam seperti tembaga dan besi (Estien dan Nursanti, 1994).
Dewasa ini telah banyak dikenal banyak jenis protein. Adanya perbedaan antara protein yang satu dengan yang lainnya, pada umumnya, disebabkan oleh adanya perbedaan jumlah, jenis, dan cara kombinasikan amino penyusunnya. Protein yang terdapat pada tanaman di kenal dengan  terdapat di dalam tanah dan air melalui proses biokimiawi yang rumit. Protein nabati yang baik adalah yang terdapat pada jenis kacang-kacangan. Protein yang terdapat pada hewan dikenal sebagai protein hewani, yang umumnya mengandung asam alfa amino yang sama dengan yang digunakan oleh manusia. Oleh karena itu, protein hewani dianggap sebagai protein yang sempurna Sumardjo ( 2006).
Di dalam tubuh, protein mempunyai peranan yang sangat penting. Fungsi utamanya sebagai zat pembangun atau pembentuk struktur sel, misalnya untuk pembentukan kulit, otot, rambut, ,membrane sel, jantung, hati, ginjal dan beberapa organ penting lainnya. Kemudian terdapat pula protein yang mempunyai fungsi khusus, yaitu protein yang aktif. Beberapa di antaranya adalah enzim yang berperan sebagai biokatalisator, hemoglobin sebagai pengangkut oksigen, hormone sebagai pengatur metabolism tubuh, dan antibody untuk mempertahankan tubuh dari serangan penyakit. Kekurangan protein dalam jangka waktu lama dapat mengganggu berbagai proses metabolism di dalam tubuh serta mengurangi daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.
Secara kimiawi, protein merupakan senyawa polimer yang tersusun atas satuan asam-asam amino sebagai monomer-nya. Asam-asam amino terikat satu sama lain melalui ikatan peptide, yaitu ikatan antara gugus karboksil asama amino yang satu dengan gugus amino dari asam amino yang lain dengan melepaskan satu molekul air. Peptida yang terbentuk atas dua asam amino yang disebut dipeptida. Sebaliknya, peptide terdiri atas tiga, empat, atau lebih asam amino masing-masing disebut tripeptida, tetrapeptida, dan seterusnya. (Estien Yazid dan Lisda Nursanti, 1994).

2.3.3        Macam-macam Protein
Berdasarkan bentuk molekulnya, protein dibedakan menjadi dua, yaitu protein globuler dan protein fiber. Protein globuler, yaitu protein berbentuk bulat atau elips dengan rantai polipeptida yang berlipat. Umumnya, protein globuler larut dalam air, basa, asam, atau etanol. Contoh : albumin, globumin, protamin, semua enzim dan antibodi. Protein fiber, yaitu protein berbentuk serat atau serabut dengan rantai polipeptida memanjang pada satu sumbu. Hampir semua protein fiber memberikan peran structural atau pelindung. Protein fiber tidak larut dalam air, asam, basa, maupun etanol. Contoh : keratin pada rambut, kolagen pada tulang rawan, dan fibrosa pada sutera. (Estien Yazid dan Lisda Nursanti, 1994).


           
2.4     Lemak
            Lipid adalah salah satu kategori molekul biologis yang besar yang tidak mencakup polimer. Meskipun lemak bukan merupakan polimer, senyawa ini adalah molekul besar dan terbentuk dari molekul yang lebih kecil melalui reaksi dehidrasi. Lemak disusun dari dua jenis molekul yang lebih kecil yaitu gliserol dan asam lemak. Gliserol adalah sejenis alkohol yang memiliki tiga karbon, yang masing mengandung sebuah gugus hidroksil. Asam lemak memiliki kerangka karbon yang panjang, umumnya 16 sampai 18 atom karbon panjangnya.

2.4.1   Macam-macam Lemak
Lemak Hewani
Sebagian besar lemak hewani merupakan zat padat karena unit penyusunnya asam lemak jenuh rantai panjang. Asam lemak jenuh tidak mempunyai ikatan rangkap dalam struktur kimianya dan pada umumnya asam lemak jenuh tidak dapat larut dalam air (Sumardjo, 2009).

Lemak Nabati
Lemak nabati merupakan zat cair, karena pada umumnya mengandung satu atau lebih asam lemak tak jenuh sebagai unit penyusunnya. Dibandingkan dengan asam lemak jenuh, asam lemak tak jenuh mempunyai titik lebur yang lebih rendah dan lebih mudah larut (Sumardjo, 2009).
BAB III
 MATERI DAN METODE
Praktikum Kimia Dasar dengan materi Analisa Kuantitatif dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 20 Oktober 2012 pukul 12.30 – 15.00 WIB di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang.

3.1    Materi
Alat - alat yang digunakan dalam praktikum yaitu buret yang digunakan untuk titrasi. Erlenmeyer 100 ml yang digunakan sebagai tempat yang dititrasi, labu ukur 250 ml yang digunakan sebagai tempat pembuatan larutan standar atau larutan tertentu dengan volume tertentu secara tepat dan cepat. Pipet tetes dipakai untuk mengambil larutan dalam jumlah kecil. Pipet volume yang digunakan untuk mengambil larutan dengan volume tertentu.
Bahan yang digunakan dalam praktikum yaitu asam oksalat (H2C2O4.2H2O), NaOH 0,1 M, fenolftalein (PP) 1%, dan asam cuka dixi.
3.2    Metode
3.2.1   Standarisai NaOH dengan Larutan Asam Oksalat Standar
Metode yang dilakukan dalam praktikum standardisasi NaOH 0,01 N yaitu menimbang dengan tepat 0.63 gram asam oksalat (H2C2O4.2H2O). Melarutkan asam oksalat yang sudah di timbang ke dalam aquades kemudian mengencerkan menjadi 100 ml dengan labu takar. Mengisikan larutan asam oksalat ke dalam buret. Pipet 10 ml NaOH dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 100 ml kemudian ditambahkan 3 tetes indikator penolftalein. Larutan yang sudah di tambahkan penolftalein itu kemudian menitrasi dengan asam oksalat standar sampai warna merah indikator tepat hilang. Mencatat volume Asam Oksalat yang diperlukan, melakukan titrasi sebanyak dua kali dan yang terakhir menghitung konsentrasi NaOH sesungguhnya.

3.2.2   Penetapan Kadar Asam Cuka
Metode yang dilakukan dalam praktikum penetapan kadar asam cuka yaitu mengisi larutan NaOH yang telah di diketahui konsentrasinya ke dalam buret, mengambil 10 ml asam cuka perdagangan dan mengencerkan menjadi 250 ml dengan labu takar. Kemudian, masukkan 10 ml asam cuka yang telah diencerkan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer, menambahkan 3 tetes indikator penolftalein. Menitrir larutan  asam cuka yang sudah diencerkan tersebut dengan larutan NaOH sampai timbul warna merah muda yang tetap. Kegiatan diulangi dua kali untuk erlenmayer yang lain. Mancatat volume NaOH yang diperlukan dan menghitung kadar asam cuka.

3.2.3 Uji kelarutan
Metode yang dilakukan dalam praktikum Uji Kelarutan yang pertama adalah menyiapkan lima tabung reaksi. Memasukkan secara urut glukosa, fruktosa, laktosa, sukrosa dan kanji ke dalam tabung. Mengamati dan mencatat warna dari bentuk fisik karbohidrat. Menambahkan 10 tetes aquades ke setiap tabung reaksi. Menutup tabung dengan ibu jari dan menggojog dengan baik. Mengamati larutan tersebut dan mencatatnya.

3.2.4   Sifat mereduksi (Uji Fehling)
Metode yang dilakukan dalam praktikum Uji Fehling yaitu menyiapkan 7 tabung reaksi, secara urut mengisi 10 tetes larutan laktosa, sukrosa, glukosa, fruktosa, kanji, madu dan sirup 2% ke dalam tabung reaksi. Mengisi 10 tetes Fehling A dan Fehling B pada masing – masing tabung reaksi, dan menggojognya. Memanaskan di atas lampu bunsen selama 10 menit. Mengamati dan mencatat perubahan yang terjadi.
3.2.5   Uji Benedict
Metode yang dilakukan dalam praktikum Uji Benedict yaitu emasukkan 10 tetes larutan glukosa ke dalam tabung reaksi. Menambahkan 5 tetes pereaksi Benedict dan menggojok berulang kali. Memanaskan dan akan terjadi perubahan warna. Mengamati secara teliti, mencatat perubahan pada lembar pengamatan. Reaksi positif jika terbentuk endapan warna merah bata. Mengulangi pengujian ini terhadap larutan fruktosa, sirup, kanji, dan laktosa.
3.2.6   Uji Asam pikrat
Metode yang dilakukan dalam praktikum Uji Asam Pikrat yaitu memasukkan 10 tetes glukosa ke dalam tabung reaksi. Menambahkan larutan Asam Pikrat jenuh dan Sodium Karbonat. Memanaskan larutan dan mengamati perubahan warna yang terjadi. Reaksi akan positif apabila terbentuk warna merah. Mengulangi pengujian ini terhadap larutan fruktosa, laktosa, sirup dan kanji.
3.2.7 Uji Biuret
Metode yang dilakukan dalam praktikum Uji Biuret yaitu mencampurkan 2 ml albumin telur dengan 2 ml NaOH 10% dalam tabung reaksi, menambahkan dengan tepat 2 tetes larutan CuS 0.5% dan mengaduk sempurna,mengamati perubahan reaksi positif jika terbentuk warna merah muda atau ungu, mengulangi langkah kerja ini terhadap gelatin.
3.2.8 Presipitasi dengan Larutan Logam Berat
Metode yang dilakukan dalam praktikum Presipitasi dengan Larutan Logam Berat yaitu menyediakan tiga tabung reaksi yang bersih, dan mengisi masing-masing dengan larutan putih telur encer, menambahkan Fe pada tabung pertama, menambahkan CuS pada tabung kedua dan Hg pada tabung ketiga, mengamati dan membandingkan warna endapan yang terbentuk, mencatat pada lembar pengamatan, kemudian mengulangi langkah kerja dengan menggunakan larutan protein susu sebagai pengganti larutan putih telur.
3.2.9 Uji Sifat Fisik, Kekentalan, dan Bau
Metode yang dilakukan dalam praktikum Uji Sifat Fisik, Kekentalan dan Bau yaitu menyiapkan bahan praktikum yang akan di gunakan dalam uji sifat fisik, kelarutan dan bau. Bahan yang digunakan adalah minyak kelapa dan gajeh. Mengamati sifat fisik, kekentalan dan bau dari minyak kelapa dan gajeh. Menulis hasil pengamatan pada lembar pengamatan.

3.2.10 Uji kelarutan Lipid
            Metode yang dilakukan dalam praktikum Uji Kelarutan Lipid yaitu menyediakan tabung reaksi, mengisi tabung 1 dengan air 10 tetes, mengisi tabung 2 dengan  10 tetes, mengisi tabung 3 dengan alkohol 10 tetes, mengisi tabung 4 dengan eter 10 tetes, menisi tabung 5 dengan kloroform 10 tetes, menambahkan minyak kelapa sebanyak 10 tetes, mengocok sampai homogen, membiarkan beberapa menit kemudian mengamati yang terjadi, mengulangi percobaan tersebut dengan menggunakan mentega dan margarin.

3.2.11 Uji Emulsi
Metode yang dilakukan dalam praktikum Uji Emulsi yaitu menyediakan 3 tabung reaksi, mengisi tabung 1 dengan 2 ml air + 1 tetes minyak kelapa, mengisi tabung 2 dengan 2 ml air + 1 tetes minyak kelapa + 1 tetes  mengisi tabung 3 dengan 2 ml air + 1 tetes minyak kelapa + air sabun, mengocok masing – masing tabung kemudian membiarkan 2 menit dan mengamati terbentuknya emulsi pada masing – masing tabung, dan mengulangi percobaan tersebut dengan menggunakan mentega dan margarin.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Analisa Kuantitatif
4.1.1 Standarisasi NaOH dengan Larutan Asam Oksalat Standar
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 1. Hasil Standardisasi NaOH dengan Asam Oksalat

Volume Asam Oksalat (ml)
Titrasi I
1,3 ml
Titrasi II
1,7 ml
Rata-rata
1,5 ml
Sumber: Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Berdasarkan hasil praktikum standarisasi NaOH dengan asam oksalat standar, terjadi perubahan warna pada NaOH setelah ditetesi dengan fenolftalein yaitu berubah menjadi warna merah, kemudian menitrasi dengan asam oksalat hingga berubah warna menjadi bening. Munculnya warna bening tersebut menunujukkan bahwa larutan tersebut dalam keadaan netral. NaOH merupakan basa kuat sehingga untuk merubah larutan tersebut menjadi netral dibutuhkan asam kuat. Hal ini sesuai dengan pendapat Day dan Underwood (2001) yang menyatakan bahwa larutan asam yang digunakan sebagai standar, hendaknya bersifat asam kuat. Suatu larutan dikatakan netral apabila dapat bereaksi dengan tepat dengan larutan yang memiliki sifat yang sama. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Keenan (1984) menyatakan bahwa suatu larutan akan benar-benar netral jika asam dan basa itu sama kuat, atau asam dan basa itu sama lemah.
4.1.2    Hasil Penetapan Kadar Asam Cuka Dixi
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 2. Hasil Pengukuran Kadar Asam Cuka

Volume NaOH (ml)
Titrasi I
22 ml
Titrasi II
23 ml
Rata-rata
22,5 ml
Sumber: Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, untuk menentukan kadar asam cuka dixi maka perlu dilakukan penambahan indikator fenolftalein pada larutan asam cuka yang berwarna jernih. Setelah dititrasi dengan NaOH warnanya berubah menjadi merah. Hal tersebut menunjukkan bahwa percobaan penentuan kadar asam cuka berhasil. Suatu indikator seperti fenolftalein mengakibatkan larutan berubah warna (Keenan, 1984). Hasil perhitungan kadar asam cuka sebesar 40,5%. Hasil tersebut dikatakan tidak normal karena kadar asam cukan yang normal berkisar antara 12-15%. Ketidaknormalan kadar asam cuka ini dapat disebabkan oleh ketidaksesuaian jumlah larutan yang digunakan untuk mengencerkan cuka. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Keenan (1984) yang menyatakan bahwa dalam analisis larutan asam dan basa, titrasi melibatkan pengkuran yang seksama volume-volume suatu asam atau basa yang tepat saling menetralkan. Titrasi dapat dikatakn berhasil apabila zat  yang ada pada sampel penelitian sudah tepat. Hal ini sesuai dengan pendapat Day dan Underwood (2002) yang menyatakan bahwa analisa kuantitatif berkaitan dengan penetapan berapa banyak suatu zat yang terkandung dalam suatu sampel.
4.2  Karbohidrat
4.2.1    Uji Kelarutan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 3. Hasil Pengamatan Uji Kelarutan
Sampel
Warna
Bentuk
Keterangan
Glukosa
Fruktosa
Laktosa
Maltosa
Sirup
Madu
Bening
Bening
Bening
Bening
Merah muda
Bening
Larutan
Larutan
Larutan
Larutan
Larutan
Larutan
Tidak berubah warna
Tidak berubah warna
Tidak berubah warna
Tidak berubah warna
Tidak berubah warna
Tidak berubah warna
 Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan, diketahui bahwa ketika larutan glukosa, fruktosa, laktosa, maltosa, sirup dan madu ditetesi dengan aquades, keenam larutan tersebut membentuk larutan dan tidak berubah warna. Hal tersebut terjadi karena karbohidrat tersebut larut dalam air. Menurut Estien dan Nursanti (2006) pada umumnya, karbohidrat berupa serbuk putih yang mudah larut dalam air. Pada saat larutan ditetesi aquades tidak terjadi reaksi, karena adanya sifat mereduksi dari karbohidrat. Hal ini sesuai dengan pendapat Sunanda (2003) yang menyatakan bahwa monosakaridadan beberapa disakarida mempunyai sifat dapat mereduksi terutama dalam suasana basa.



4.2.2    Uji Fehling
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 4. Hasil Pengamatan Uji Fehling
Sampel
Reaksi (+\-)
Keterangan
Laktosa
Glukosa
Fruktosa
Madu
Sirup 2%
Maltosa
+
+
+
+
+
+
Ada endapan, warna biru menjadi merah bata
Ada endapan, warna biru menjadi merah bata
Ada endapan, warna biru menjadi merah bata
Ada endapan, warna biru menjadi merah bata
Ada endapan, warna merah bata menjadi biru
Ada endapan, warna biru menjadi merah bata
 Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Berdasarkan hasil praktikum diketahui apabila laktosa,glukosa, fruktosa, madu, sirup 2% dan maltosa ditambahkan dengan fehling A dan fehling B kemudian dipanaskan, menghasilkan endapan merah bata. Hal ini sesuai dengan pendapat Poedjiadi (1994) yang menyatakan bahwa pereaksi fehling menghasilkan endapan berwarna merah bata. Perubahan warna biru menjadi merah bata menunjukkan bahwa larutan tersebut berubah dari suasana asam menjadi basa. Menurut Bintang (2012) endapan merah bata yang terbentuk setelah dipanaskan, menunjukkan larutan dalam suasana basa.




4.2.3        Uji Benedict
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 5. Hasil Pengamatan Uji Benedict
Sampel
Reaksi (+\-)
Keterangan
Glukosa  2%
Fruktosa
Maltosa
Laktosa
Sirup
Madu
+
+
+
+
+
+
Ada endapan, warna biru menjadi kuning
Ada endapan, warna biru menjadi kuning
Ada endapan, warna biru menjadi merah bata
Ada endapan, warna biru menjadi merah bata
Ada endapan, warna hijau menjadi kuning
Ada endapan, warna hijau menjadi kuning
 Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
      Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa larutan glukosa 2%, fruktosa, maltosa, laktosa, sirup, dan madu yang ditetesi pereaksi benedict kemudian dipanaskan, menghasilkan endapan berwarna kuning dan merah bata. Hal ini sesuai dengan pendapat Sunanda (2003) yang menyatakan bahwa pada uji fehling, endapan yang terbentuk dapat berwarna hijau, kuning, atau merah bata bergantung pada konsentrasi karbohidrat yang diuji. Uji benedict dilakukan pada suasana basa, terbukti dengan terjadinya perubahan pada glukosa, fruktosa, sirup, maltosa, laktosa, dan madu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bintang (2012) uji benedict dilakukan pada suasana basa yang menyebabkan terjadinya transformasi bentuk.



4.2.4        Uji Asam Pikrat
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 6. Hasil Pengamatan Uji Asam Pikrat
Sampel
Reaksi (+\-)
Keterangan
Glukosa  2%
Fruktosa
Maltosa
Laktosa
Sirup
Madu
+
+
-
-
+
+
Ada endapan,warna kuning menjadi merah bata
Ada endapan, warna kuning menjadi merah bata
Tidak ada endapan, warna tetap kuning
Tidak ada endapan,warna tetap kuning
Ada endapan, warna kuning menjadi merah bata
Ada endapan, warna kuning menjadi merah bata
 Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Berdasarkan hasil praktikum, diketahui bahwa glukosa, fruktosa, sirup dan madu mengalami perubahan warna dari kuning menjadi merah bata setelah ditetesi asam pikrat jenuh dan sodium karbonat kecuali laktosa dan maltosa yang tidak mengalami perubahan warna. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumardjo (2008) yang menyatakan bahwa pada pemanasan, terjadi perubahan warna kuning menjadi merah bata. Namun, larutan maltosa dan laktosa tidak mengalami perubahan warna. Hal tersebut tidak sesuai dengan pernyataan Estien dan Nursanti (2006) semua jenis karbohidrat akan berubah warna menjadi merah bilal larutannya dicampur dengan larutan asam sulfat pekat. Kejadian tersebut terjadi disebabkan oleh kurang lamanya pemanasan pada larutan maltosa dan laktosa.



4.3 Protein
4.3.1    Uji Biuret
            Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 7. Hasil Pengamatan Uji Biuret
Sampel
Reaksi (+/-)
Keterangan
Putih Telur
+
Berubah menjadi warna ungu
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
            Berdasarkan hasil dari praktikum yang sudah dilaksanakan, diketahui bahwa putih telur setelah direaksikan menggunakan larutan NaOH 10 % dan CuSO4 0,5 % terjadi perubahan warna yang semula bening berubah menjadi warna ungu, dengan demikian reaksi dapat dikat akan positif. Hal ini sesuai dengan pendapat Bintang (2012) yang menyatakan bahwa ion cu2+  dari pereaksi biuret dalam suasana basa akan bereaksi dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptide yang menyusun protein dan membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Berdasarkan hasil pengamatan dari putih telur yang direaksikan dengan NaOH 10 % dan CuSO4 diketahui bahwa putih telur tidak dapat larut didalam air. Ditambahkan oleh Sastrohamidjojo (2005) menyatakan bahwa protein tidak dapat larut didalam cairan-cairan organik.



4.3.2 Uji Presipitasi dengan Larutan Asam Logam Berat (Putih Telur)
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 8. Hasil Pengamatan Presipitasi Larutan Asam Logam Berat (Putih Telur)
Reagen
Reaksi (+/-)
Keterangan
FeCl3
+
Warna merah bata, terdapat endapan
CuSO4
-
Warna biru muda, tidak terdapat endapan
HgCl2
-
Warna putih, tidak terdapat endapan
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
            Berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum yang telah dilaksanakan, diketahui bahwa putih telur yang ditetesi FeCl3 terdapat endapan, sedangkan yang ditetesi CuSO4 dan HgCl2 tidak terdapat endapan, dikarenakan protein peka terhadap zat kimia. Hal ini sesuai dengan pendapat Estien dan Nursanti (1994) yang menyatakan bahwa pada umumnya protein sangat peka terhadap pengruh fisik dan zat kimia, sehingga protein mudah mengalami perubahan bentuk. Pada pengamatan presipitasi larutan asam logam berat pada putih telur yang direaksikan dengan FeCl3, CuSO4 dan HgCl2, diketahui bahwa pada putih telur yang direaksikan dengan FeCl3 terbentuk endapan, dikarenakan pada FeCl3 mengandung logam-logam berat. Ditambahkan oleh Sastrohamidjojo (2005) menyatakan bahwa protein mengendap dari larutannya bila ditambahkan dengan garam-garam anorganik.



4.3.3    Uji Presipitasi Larutan Asam Logam Berat (Protein Susu)
            Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, diperolih hasil sebagai berikut.
Tabel 9. Hasil Uji Presipitasi Larutan Asam Logam Berat (Protein Susu)
Reagen
Reaksi (+/-)
Keterangan
FeCl3
+
Warna kuning, terdapat endapan
CuSO4
-
Warna biru muda, tidak terdapat endapan
HgCl2
+
Warna putih, terdapat endapan
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
            Berdasarkan hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan, diketahui bahwa protein susu mengalami reaksi positif pada saat direaksikan dengan FeCl3 dan HgCl2. Pada hasil praktikum diketahui bahwa pada saat reaksi dilakukan, terbentuk endapan putih pada HgCl2 akibat dari larutan asam logam tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Poedjiadi (1994) yang menyatakan bahwa reaksi terjadi secara hetero polar dan elektrovalen yaitu ikatan antara ion-ion yang bermuatan berlawanan dengan suatu molekul, ikatan ini terjadi antara radikal karbonil dengan radikal amino bebas. Pada praktikum, reagen yang digunakan yaitu HgCl2 merupakan senyawa yang termasuk dalam logam berat, dan telah di ketahui bahwa logam berat itu dapat merusak kualitas protein. Ditambahkan oleh Sumardjo (2008) yang menyatakan bahwa logam berat yang seperti halnya pada tubuh manusia, bila tubuh manusia terkontaminasi dengan logam berat, maka protein yang terdapat didalam tubuh manusia semakin lama akan semakin buruk kualitasnya.


4.4  Lemak
4.4.1 Uji Sifat Fisik, Kekentalan dan Bau
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 10. Hasil Uji Sifat Fisik, Kekentalan dan Bau
Sampel
Kekentalan
Bau
Sifat Fifik
Minyak Kelapa
Kental
Tidak berbau
Cair
Gajeh
Kental
Menyengat
Padat
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
            Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, telah diketahui bahwa struktur dari minyak kelapa dan gajeh adalah kental, dikarenakan minyak kelapa dan gajih mengandung lemak. Hal ini sesuai dengan pendapat Iswari dan Astuti (1998) yang menyatakan bahwa ciri-ciri lemak adalah tidak larut didalam air dan dan tampak berminyak atau kental. Pada bahan yang digunakan dalam praktikum telah diketahui bahwa minyak kelapa dan gajeh mempunyai sifat fisika, yang berarti bahan tersebut dikelompokan dalam lipid. Ditambahkan oleh Poedjiadi dan Supriyanti (2007) yang menyatakan bahwa lemak dan senyawa organik yang mempunyai sifat fisika seperti lemak, dimasukan dalam satu kelompok yaitu lipid.




4.4.2 Uji Kelarutan (Minyak Kelapa)
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 11. Hasil Uji Kelarutan Minyak Kelapa
Sampel
Kekentalan
Bau
Sifat Fisik
Eter
Encer
Menyengat
Larut
Na2CO3
Encer
Tidak Menyengat
Tidak Larut
Air
Encer
Tidak Menyengat
Tidak Larut
Alkohol
Kental
Menyengat
Tidak Larut
Kloroform
Encer
Tidak Menyengat
Larut
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Berdasarkan hasil dari praktikum, diketahui bahwa minyak kelapa hanya larut pada saat direaksikan dengan eter dan kloroform, dimana eter dan kloroform merupakan zat kimia yang tergolong dalam pelarut organiknon polar. Hal ini sesuai dengan pendapat Bintang (2012) yang menyatakan bahwa lipid dapat larut dalam pelarut organik non polar dan pelarut organik polar yang dipanaskan. Pada hasil praktikum diketahui bahwa minyak kelapa yang direaksikan dengan Na2CO3, air dan alkohol tidak dapat larut dikarenakan lipid tidak dapat larut didalam air. Ditambahkan oleh Poedjiadi dan Supriyanti (1994) yang menyatakan bahwalipid tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih dari satu pelarut organik misalnya eter, aseton dan kloroform.




4.4.3    Uji Kelarutan ( Mentega dan Margarin)
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil data sebagai berikut.
Tabel 12. Hasil Uji Kelarutan Mentega dan Margarin
Sampel
Kekentalan
Bau
Sifat Fisik
Mentega
Margarin
Mentega
Margarin
Mentega
Margarin
Eter
Kental
Encer
Menyengat
Menyengat
Larut
Larut
Na2CO3
Encer
Encer
Tidak Menyengat
Tidak menyengat
Tidak Larut
Tidak larut
Air
Encer
Encer
Tidak Menyengat
Tidak menyengat
Tidak Larut
Tidak larut
Alkohol
Encer
Encer
Menyengat
Menyengat
Tidak Larut
Tidak larut
Kloroform
Encer
Encer
Tidak Menyengat
Tidak menyengat
Larut
Larut
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Berdasarkan hasil dari praktikum, telah diketahui bahwa mentega dan mentega yang direaksikan dengan eter, Na2CO3, air, alkohol, dan kloroform terjadi kelarutan pada eter dan kloroform, dikarenakan eter dan kloroform merupakan pelarut yang dapat melarutkan mentega yang mempunyai kandungan lipid. Hal ini sesuai dengan pendapat Poedjiadi dan Supriyanti (2007) yang menyatakan bahwa lipid dapat diperoleh dari hewan dan tumbuhan dengan cara ekstrasi menggunakan alkohol yang dipanaskan, eter kloroform atau pelarut lemak lain  yang tergolong dalam pelarut organik non polar. Dari hasil prktikum mentega dan margarin yang direaksikan dengan Na2CO3, air dan alkohol tidak larut dikarenakan Na2CO3, air dan alkohol bukan termasuk termasuk dalam organik non polar melainkan pelarut organik polar. Ditambahkan oleh Iswari dan Yuniastuti (1998) yang menyatakan bahwa lipid tidak larut dalam air, akan tetapi lipid larut dalam pelarut-pelarut non polar seperti eter, kloroform dan benzena.
4.4.4    Uji Emulsi
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil data sebagai berikut.
Tabel 13. Hasil Uji Emulsi Minyak Kelapa
Sampel
Kekentalan
Bau
Sifat Fisik
Air
Encer
Khas
Tidak Larut
Air + Na2CO3
Encer
Khas
Tidak Larut
Air + Air Sabun
Encer
Sabun
Tidak larut
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Berdasarkan hasil dari praktikum, diketahui bahwa minyak yang direaksikan dengan air dan air + air sabun akan membentuk emulsi, dikarenakan air sabun memecah molekul minyak kelapa sehingga susunanya akan rusak. Hal ini sesuai dengan pendapat Raharjo (2005) yang menyatakan bahwa asam lemak jenuh dibandingkan dengan asam lemak tak jenuh lebih memiliki titik lebur lebih rendah dan mudah larut. Pada praktikum, saat minyak kelapa direaksikan dengan air + Na2CO3 diperoleh hasil emulsi dari reaksi tersebut, dikarenakan Na2CO3 memecah molekul sehingga susunannya rusak. Ditambahkan oleh Keenan (2008) yang menyatakan bahwa asam lemak jenuh tidak mempunyai ikatan rangkap dalam struktur kimianya dan asam lemak jenuh pada umumnya tidak dapat larut di dalam air.




4.4.5    Uji Emulsi ( Mentega )
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil data sebagai berikut.
 Tabel 13. Hasil Uji Emulsi Mentega
Sampel
Kekentalan
Bau
Sifat Fisik
Air
Encer
Khas
Tidak Larut
Air + Na2CO3
Encer
Khas
Tidak Larut
Air + Air Sabun
Encer
Sabun
Tidak larut
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Berdasarkan hasil dari praktikum, diketahui bahwa mentega yang direaksikan dengan air dan air + air sabun menghasilkan emulsi. Hal ini sesuai dengan pendapat Winarno (2001) yang menyatakan bahwa asam lemak jenuh tidak dapat larut dalam air dan pada umumnya asam lemak jenuh tidak mempunyai ikatan rangkap. Hal tersebut bertentangan dengan pendapat James (2004) yang menyatakan bahwa asam lemak pada umumnya mempunyai fungsi antara lain sebagai penghasil kalor teringgi, sebagai pelarut vitamin A, D, E dan K serta sebagai pembuat zat makanan esensial, sebagai pelindung tubuh, menjaga tubuh dari kedinginan dan rasa lapar. Pernyataan ini sesuai dengan hasil praktikum bahwa air dan air sabun dapat melarutkan mentega.
4.4.6    Uji Emulsi ( Margarin )
Berdasarkan  praktikum yang dilakukan, diperoleh hasil data sebagai berikut.
Tabel 15. Hasil Uji Emulsi Margarin
Sampel
Kekentalan
Bau
Sifat Fisik
Air
Encer
Khas
Tidak Larut
Air + Na2CO3
Encer
Khas
Tidak Larut
Air + Air Sabun
Encer
Sabun
Tidak larut
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2012.
Berdasarkan hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan, diketahui bahwa margarin yang direaksikan dengan air + Na2CO3 menghasilkan emulsi, dikarenakan Na2CO3 memecah molekul sehingga susunannya rusak. Hal ini sesuai dengan pendapat Keenan (2008) yang menyatakan bahwa asam lemak jenuh tidak mempunyai ikatan rangkap dalam struktur kimianya dan asam lemak jenuh pada umumnya tidak larut dalam air. Hal tersebut berbeda dengan pendapat Raharjo (2005) yang menyatakan bahwa asam lemak jenuh dibandingkan dengan asam lemak tak jenuh lebih memiliki titik ebur lebih rendah dan mudah larut dalam air.










BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1       Simpulan
Dari hasil pembahasan pada praktikum Analisa Kuantitatif dapat di tarik kesimpulan bahwa keberhasilan suatu titrasi tergantung pada tepat tidaknya pencampuran larutan dengan PP, pengukuran, volume titrasi serta tepat tidaknya proses titrasi. Pada praktikum Karbohidrat dapat disimpulkan bahwa pada uji kelarutan semua sampel larut dalam air, pada uji fehling dan uji bennedict semua sampel bereaksi positif dan berwarna merah bata, dan uji asam pikrat semua sampel bereaksi positif dan berwarna merah kecuali maltosa dan laktosa yang bereaksi negatif karena kurang lamanya proses pemanasan. Pada praktikum Protein dapat disimpulkan bahwa putih telur bereaksi postif yang ditunjukan dengan warna ungu, pada uji presipitasi dengan larutan asam logam berat sampel yang direaksikan dengan FeCl3 dihasilkan reaksi negatif berwarna kuning. Pada praktikum Lemak dapat disimpulkan bahwa pada uji kelarutan lipid minyak kelapa, margarin, dan mentega berbentuk suspense dan berbau khas, pada uji emulsi semua sampel teremulsi ditunjukkan oleh adanya gelembung-gelembung yang tidak larut.

5.2       Saran
Berdasarkan praktikum yang dilakukan sebaiknya praktikum kimia untuk yang akan datang lebih baik dari yang sekarang.
DAFTAR PUSTAKA
Bintang, M. 2012. Biokimia Teknik Penelitian. Erlangga. Jakarta.

Champbell, N.A., J.B. Reece., L.G. Mitchell. 2002. Biologi. Erlangga. Jakarta.
Day, R. A. dan A. L. Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta.

Estien, Y dan Nursanti, L. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia untuk Mahasiswa Analis. Andi. Yogyakarta.
Haryadi, W. 1990. Pengantar Kimia Analitik. Erlangga. Jakarta.
Iswari, R.S. dan Yuniastuti. 1998. Biokimia Jilid I. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Keenan, C. 2008. Ilmu Kimia untuk Universitas. Erlangga. Jakarta.

Murray, R.K., D.K.Granner., V.W.Rodwell. 2006. Biokimia Harper. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokoimia. Erlangga. Jakarta.
Poedjiiadi, A dan Supriyanti. 2007. Dasar-Dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Raharjo, S. 2005. Kerusakan Oksidatif pada Makanan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Roth, B.J dan Blaschike, G. 1988. Analisis Farmasi. Gadjah Mada University Press. Jakarta.
Sukmariah, M dan Kamianti, A. 1992. Kimia Kedokteran. Binarupa Aksara. Jakarta.
Sumardjo, D. 2009. Pengantar Kimia. Penerbit Buku kedokteran EGC. Jakarta.

Sunanda, Y. 2003. Kimia Dasar Prinsip-Prinsip Kimia Teknik. Alkemi Grafisindor Press. Bandung.

Winarno, F.G. 2001. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.


 




DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Gambar Peralatan Praktikum
NO
Nama Alat
Gambar
Fungsi

1
       
        Buret


Sebagai tempat yang digunakan untuk titrasi.

2

Erlenmeyer


Sebagai tempat untuk mencampurkan larutan.

3

Klem


sebagai penjepit buret dengan statif.


4

Labu ukur


Untuk membuat larutan standar dengan volome tertentu.

5

Pipet Volume


untuk memipetkan NaOH.


6


Statif



sebagai tempat meletakkan klem.

7

Pipet tetes
  

Digunakan untuk mengambil larutan dengan jumlah sedikit.

8

Corong


untuk memasukkan larutan ke dalam buret.
LEBIH LENKAPNYA
DOWNLOAD disini
Share this article :
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Informasi : Roy Hutasoit | Samosir | Indonesia
Copyright © 2014. RHutasoit - Semoga Hari Anda Menyenangkan
Mandok Parjolo HORAS I Love You JESUS SIPALUA AU
DI: FAKULTAS PETERNKAN DAN PERTANIAN